-->
Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

CLASSIC

Try with us
Showing posts with label Inventor. Show all posts
Showing posts with label Inventor. Show all posts

Saturday, December 20, 2014

Pelopor Transplantasi Organ

VLADIMIR PETROVICH DEMIKHOV (1916-1998) 
Vladimir Petrovich Demikhov adalah seorang ilmuwan Soviet. Dia melakukan eksperimen aneh dengan kepala anjing, yaitu menjaga kepala seekor anjing tetap hidup meski telah dipisahkan dari tubuhnya, dan kemudian menanam kepala itu ke tubuh anjing lain.

Dia lahir pada tahun 1916, Demikhov menjadi terkenal karena eksperimen dalam transplantasi organ dan selama tahun 1930-an hingga 1950-an, setelah dia menjabat sebagai dokter bedah di rumah sakit Tentara Merah selama Perang Dunia II. Selama hari-hari pertempuran, dia sering menjahit luka dan mengamputasi tentara-tentara korban perang. Di saat kesibukannya yang seperti itulah, ia memiliki ide yang sangat gila: Kita mungkin dapat melakukan transplantasi jantung dan paru-paru pada manusia.
Hasil dari proses implan kepala anjing yang dilakukan oleh Vladimir Petrovich Demikhov pada tahun 1952. (Gambar dari: http://bit.ly/1svd8JA)
Tidak ada yang percaya kepadanya saat itu. Karena pada saat itu, transplantasi organ adalah sebuah konsep yang luarbiasa gila. Saking gilanya, maka butuh orang gila seperti Stalin untuk mendukung konsep ini. Kemudian Stalin mendirikan fasilitas medis rahasia setelah perang untuk bereksperimen dengan transplantansi organ dan pencarian konsep hidup panjang.

Di laboratoriumnya pada fasilitas medis rahasia tersebut, Demikhov berhasil mencangkokkan jantung dan paru-paru antar hewan. Pada tahun 1960 ia menerbitkan monografi ilmiah pertama tentang transplantology yang berjudul "Experimental transplantation of vital organs." Itu sebuah karya yang memulai ilmu transplantasi seperti yang kita kenal sekarang. Bahkan, Dr. Christiaan Neethling Barnard - seorang dokter bedah pertama yang melakukan transplantasi jantung manusia dengan sukses- menganggap Demikhov sebagai mentornya.

Tapi Demikhov menjadi lebih terkenal karena percobaan transplantasi lain yang lebih gila: transplantasi kepala anjing! Setelah sukses melakukan transplantasi pertama dengan rekannya Profesor AG Konevskiy di Universitas Kedokteran negara bagian Volgograd, Demikhov mulai melakukan pertukaran kepala anjing-anjing.

Dia juga menanamkan kepala anjing dan bagian tubuh lain dari seekor anjing pada anjing yang berbeda, sehingga menghasilkan hibrida yang sangat aneh yang hanya bertahan selama beberapa bulan. Penelitian ini menginspirasi seorang dokter Amerika, Robert White, yang juga ahli bedah perang dunia kedua lainnya dengan mengikuti jejak ahli bedah Soviet, melakukan eksperimen yang sama dengan monyet rhesus.

Karya Demikhov menyebabkan terjadinya 'perlombaan' transplantasi antara Uni Soviet dan Amerika Serikat. White memiliki ide-ide gila sendiri, seperti transplantasi kesadaran dari tubuh ke tubuh dengan mentransplantasikan otak. Ini adalah sesuatu yang tidak atau belum berhasil dilakukan (meskipun mungkin tranplantasi ini sampai sekarang masih dicoba di beberapa fasilitas bawah tanah rahasia). Saat ini ada beberapa keberhasilan dengan transplantasi stem sel ke dalam otak (terutama dengan penyakit Parkinson dan Alzheimer). Namun sel-sel baru ini sering mati tidak lama setelah proses implantasi.
Untuk semua pekerjaannya yang luar biasa, yang mengawali munculnya ilmu transplantasi yang telah menyelamatkan jutaan nyawa sejauh ini, Vladimir Petrovich tidak menerima banyak pengakuan dan penghargaan. Namun ironisnya, saat dia meninggal pada tahun 1998, tak dikenal dan diabaikan di negaranya sendiri dan oleh seluruh dunia, dan plus dibenci oleh seluruh anjing yang ada di planet ini. *** [EKA | FROM VARIOUS SOURCES | IO9]
Note: This blog can be accessed via your smart phone.

Friday, October 31, 2014

Penemu kemasan makanan berbentuk 'tetrahedron'

ERIK WALLENBERG (1915–1999)
Karl Erik Sven Wallenberg atau Erik Wallenberg adalah seorang peneliti berkebangsaan Swedia yang lahir pada 25 Desember 1915 di kota Sala, Swedia dari pasangan Sven Edvard Wallenberg dan Maria Karolina.

Pada awalnya Wallenberg merencanakan untuk bergabung dengan Angkatan Darat sebagai seorang perwira, tapi saat pelatihan militer ia jatuh sakit sehingga harus meninggalkan rencananya. Kemudian ia mendaftar sekolah kedokteran di Karolinska Institutet di Stockholm dan diterima. Tak berapa lama setelah bersekolah di sana, ia memutuskan pindah ke kota Lund dan mencoba lagi untuk masuk sekolah kedokteran di Lund University pada tahun 1943.

Sambil menunggu diterima di Universitas Lund, Wallenberg mendapat pekerjaan sebagai asisten laboratorium di Åkerlund & Rausing, sebuah perusahaan manufaktur kemasan makanan lokal. Saat itu tim laboratorium penelitiannya mendapat perintah dari pemilik perusahaan Ruben Rausing untuk membuat kemasan susu yang layak serta berharga murah sehingga dapat bersaing dengan kemasan botol susu kaca yang digunakan pada sistem distribusi susu saat itu.

Erik Wallenberg, penemu kemasan 
makanan tetrahedron. (Gambar dari:  
http://bit.ly/1DtwGD5)
Kepala laboratorium sebelumnya beserta tim telah mencoba dengan beberapa solusi yang berbeda namun gagal. Pada tahun 1944, ia diangkat menjadi kepala laboratorium penelitian pada usia 28 tahun. Wallenberg mendapat ide untuk menggunakan satu lembar kertas digulung menjadi silinder dan dilipat dari dua sisi yang berbeda hingga tercipta bentuk matematis 'tetrahedron'. Volume diciptakan hanya perlu disegel di tiga tempat dan paket dapat diproduksi dalam satu urutan berikutnya dari satu gulungan kertas, sehingga menggunakan minimal bahan, dengan minimal limbah.

Pada awalnya ada keragu-raguan, dan pada akhirnya Ruben Rausing menjadi yakin bahwa penemuan ini adalah ide yang baik dan memerintahkan proyek ini untuk terus dikembangkan. Pada bulan Maret 1944 ia mengajukan paten, dan pada tahun 1951 Tetra Pak diciptakan sebagai anak perusahaan dari Åkerlund & Rausing. 
Tetra Pak awalnya memproduksi kemasan makananan dari karton kardus berbentuk 'tetrahedron' untuk berbagai produk makanan, namun seiring dengan perkembangan waktu bentuk kemasan semakin bervariasi. (Gambar dari: http://bit.ly/1rYgynx)
Sistem kemasan berbentuk tetrahedron membuat Tetra Pak menjadi salah satu perusahaan yang paling sukses di dunia. Sistem kemasan makanan ini masih dijual dan dipergunakan hingga saat ini dengan nama Tetra Classic Aseptic dan memiliki bentuk yang bervariasi.

Meskipun begitu banyak penghormatan dan pujian yang dikemukakan untuk sistem kemasan berbentuk tetrahedron ini, namun Wallenberg tidak mendapatkan pengakuan atas penemuannya ini sampai tahun 1991, saat ia dianugerahi 'Grand Gold Medal' oleh Royal Swedish Academy of Engineering Sciences untuk "gagasan dan usahanya dalam pengembangan sistem kemasan Tetra Pak". Erik Wallenberg meninggal dunia di kota Lund pada 18 Oktober 1999. *** [EKA | FROM VARIOUS SOURCES | WIKIPEDIA]
Note: This blog can be accessed via your smart phone.

Saturday, May 24, 2014

Tokoh di Balik Penemuan Virus

ADOLF MEYER (1843-1942)
Tahun 1879, seorang Direktur Agricultural Experiment Station di Belanda diminta para petani untuk meneliti tanaman tembakau mereka. Pada daunnya tersebar bercak-bercak berbentuk mosaik yang menghambat pertumbuhan tembakau. Gejala tersebut ternyata dapat menular ke tanaman tembakau lain.

Sang direktur menyimpulkan bahwa kejadian itu disebabkan oleh bakteri. Hasil penelitiannya kemudian dianggap sebagai acuan rangkaian panjang penelitian mengenai virus pada tanaman dan virus secara keseluruhan. Direktur tersebut adalah Adolf Eduard Meyer, seorang kimiawan pertanian asal Jerman.

Penelitian Meyer mengenai tanaman tembakau diterbitkan tahun 1886. Penyakitnya ia beri nama mosaic disease of tobacco. Secara rinci, ia jelaskan gejala dan penyebab mengapa tanaman tembakau tidak tumbuh dengan sempurna juga bercak mosaik yang menyertainya. Cara Adolf Meyer menemukan penularan penyakit pada tembakau adalah dengan menyemprot tanaman yang sehat dengan getah tanaman yang sakit. Hasilnya, tanaman tembakau yang sehat itu terinfeksi penyakit yang sama.

Kala itu, penyakit yang menular tersebut diyakini berasal dari bakteri kecil atau toxin. Meyer lalu menggunakan mikroskop optik untuk melihat bakteri pada getah tembakau. Akan tetapi, tidak ada bakteri yang terlihat. Karena tidak menemukan mikroba pada getah tanaman tersebut, Meyer menyimpulkan bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri yang sangat kecil yang tidak bisa dilihat melalui mikroskop. Meyer lalu mengklaim bahwa bakteri kecil itu sebenarnya dapat terdeteksi dengan cara menyaring getah menggunakan kertas penyaring.

Penyaringan getah tembakau kemudian diuji coba oleh ilmuwan asal Rusia, Dmitry Ivanovsky, pada 1892. Ia menggunakan saringan keramik agar bakterinya tidak lolos. Hasil penelitiannya tidak berbeda jauh dengan penemuan Meyer. lima tahun berselang, ilmuwan Belanda Matius Beijerink juga bereksperimen dengan cara yang sama. Darinyalah istilah virus berasal.

Ia berpendapat bahwa ada gen yang menginfeksi tanaman tembakau. Matius menyebut gen tersebut sebagai virus lolos saring (vilter able virus). Kesimpulan Beijerink sekaligus mementahkan pendapat Meyer yang menyebut penyebab penyakit pada tanaman tembakau adalah bakteri. Penelitian Beijerink menunjukkan bahwa ternyata penyebab penyakit itu adalah virus.

Pendapat Matius Beijerink lalu diperkuat pada 1935. Seorang ilmuwan asal Amerika, Wendall Stanley, berhasil mengkristalkan partikel penyebab penyakit mosaik pada tembakau. Stanley menyebut penyakit itu dengan nama Tobacco Mosaic Virus (TMV). Virus itu juga merupakan virus pertama yang divisualisasikan dengan mikroskop elektron pada 1939.

Meskipun baru diteliti pada abad 19, sebenarnya virus sudah menginfeksi sejak sebelum masehi. Hal itu dibuktikan dengan adanya penemuan pada tulisan Mesir Kuno tahun 1400 SM. Tulisan tersebut menerangkan bahwa kala itu pernah ada penyakit poliomyelitis. Bukti lainnya menunjukkan bahwa Raja Firaun, Ramses V dipercaya meninggal karena terserang virus smallpox.

Virus adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis. Virus tidak mempunyai perlengkapan selular sendiri untuk bereproduksi, jadilah ia berkembang biak di dalam material hidup dengan cara menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup. Karena virus tidak dapat menjalankan fungsi biologisnya dengan bebas, statusnya sering diperdebatkan apakah virus termasuk mahluk hidup atau bukan. Karakteristik virus tersebut juga selalu dikaitkan dengan penyakit tertentu, misalnya virus flu burung pada hewan, virus mosaik pada tembakau, atau virus MERS pada manusia.

Sang pencetus peneliti virus, Adolf Meyer lahir pada 9 April 1843 di Oldenburg. Ibunya merupakan seorang putri kimiawan ternama, Leopald Gmelin. Dari 1860-1862, Meyer belajar matematika dan kimia di Institut Teknologi Karlsruhe, Jerman. Ia lalu mendaftar ke Universitas Heidelberg di negara yang sama. Di sana Meyer meraih gelar PhD dalam kimia dan matematika dengan status lulusan terbaik. Meyer juga ditunjuk sebagai profesor sekolah agrikultur di Wageningen, Belanda. Institusi yang pernah Meyer tempati, di antaranya Universitas Halle-Wittenberg dan Universitas Heidelberg Jerman, serta Pusat Penelitian Universitas Wageningen di Belanda.

Meyer meninggal tepat saat hari Natal tahun 1942 di usianya yang ke-99. Semasa hidupnya, ia menyaksikan bagaimana para ilmuwan setelahnya tak henti meneliti virus. Meskipun Meyer sempat salah menyimpulkan bahwa penyakit pada tanaman tembakau disebabkan oleh bakteri dan bukan virus, hasil penelitiannya tetap dianggap sebagai tonggak penelitian penemuan virus. *** [EKA | FROM VARIOUS SOURCES | FITRAH | PIKIRAN RAKYAT 22052014]
Note: This blog can be accessed via your smart phone.Enhanced by Zemanta

Tuesday, February 18, 2014

Penemu Popok Sekali Pakai

MARION O'BRIEN DONOVAN (1917-1998)
Mungkin tidak akan terbayangkan sebelumnya, popok sekali pakai bisa sedemikian luas pemakaiannya pada saat sekarang. Meringankan tugas para ibu dalam merawat bayi, terutama para ibu yang baru memiliki momongan bayi. Popok sekali pakai juga dipergunakan oleh orang lanjut usia dan orang-orang dewasa yang terbaring sakit, tanpa bisa bergerak. Malahan, orang dewasa yang sehat secara fisik, dalam beberapa kasus, dapat menjadi pemakai popok instan ini.

Awal penemuan popok sekali pakai terjadi saat Marion O'Brien Donovan asal Fort Wayne, Indiana, Amerika Serikat yang merasa kerepotan dalam merawat bayi perempuannya. Ia harus sering-sering mengganti popok kain yang basah, mencuci lalu menyetrikanya berulang-ulang, dan itu menyita waktu seharian, padahal ia cukup sibuk. Peraih gelar master dalam arsitektur dari Universitas Yale kelahiran 15 Oktober 1917 ini berpikir bagaimana caranya membuat popok yang tidak perlu langsung diganti begitu si kecil pipis.

Ia mulai bekerja dengan mesin jahit dan membuatnya menggunakan tirai mandi berbahan parasut. Lapisan luar yang tahan air serta di dalamnya digunakan bahan penyerap air yang dapat menghindarkan ruam pada kulit bayi. Produk pertamanya dinamakan "Boater" yang berasal dari nama alas tempat tidur atau perlak yang menjaga pipis bayi tidak membasahi kasur. Boater lantas ia perkenalkan pada ajang "Saks Fifth Avenue" 1949 di New York. Banyak di antara masyarakat yang datang lalu tertarik dengan penemuan Marion ini.
Marion Donovan bersama model bayi saat memperkenalkan 'Boater' pada 19 Juni 1949. (Gambar dari: http://americacomesalive.com/)
Pada 1951, Marion mematenkan hasil penemuannya dan mencoba menjualnya pada beberapa perusahaan manufaktur, namun gagal. Ia membuat perusahaannya sendiri yang bernama Donovan Enterprises. Dua tahun berselang ia berhasil menjual paten popok sekali pakainya dan sekaligus perusahaannya seharga sejuta dolar AS pada Keko Corporation yang khusus membuat pakaian anak-anak.

Marion memang berasal dari keluarga penemu, ayahnya, Miles O'Brien dan pamannya John, adalah penemu mesin bubut yang digunakan untuk menggerinda roda gigi mobil dan laras senapan. Ia sendiri tertarik mengembangkan produk rumah tangga yang dipakai sehari-hari dengan total 20 paten, termasuk empat paten untuk pelapis popok tahan air dan perekat plastiknya, kotak penyimpanan serbaguna, kotak tisu, pegangan handuk, jepitan kaus kaki, gantungan baju, benang gigi, amplop, dan lain-lain.

Ia meraih gelar BA pada 1939 dalam bahasa Inggris di Rosemont College, kemudian pernah bekerja sebagai asisten editor di majalah Vogue serta Harper's Bazaar. Pernikahan pertamanya dengan James F Donovan, 1942, saat ia tinggal di Westport, Connecticut. Pernikahan yang kedua, membuahkan dua anak, yaitu dengan John F Butler. Marion menghabiskan hari tuanya di Manhattan, New York dan meninggal pada usia 81 tahun, 4 November 1998, di Rumah Sakit Lenox Hill.

PERKEMBANGAN MENJADI PAMPERS
Popok sekali pakai temuan Marion Donovan, sepuluh tahun kemudian dikembangkan oleh Victor Mills (28 Maret 1897-1 November 1997). Secara umum, ia adalah orang yang paling bertanggung jawab membuat popok sekali pakai menjadi produk global. Segera, popok instan produk Procter & Gamble, tempat Victor bekerja sebagai ahli kimia, bisa dipakai oleh jutaan orang di seluruh dunia. Tadinya, ia berpikir bagaimana popok sekali pakai bisa dipakai oleh cucunya, lebih mudah dan praktis membuatnya.

Sebelumnya, telah ada popok sekali pakai modern yang diperkenalkan oleh Johnson & Johnson dengan merek Chux, yang masih menyulitkan pemakainya. Produk impor dari Swedia ini dianggap lebih cocok untuk penggunaan keluarga yang hendak bepergian jauh. Procter & Gamble merekayasa ulang Chux menjadi lebih nyaman dengan merek Pampers dan membuatnya mendominasi pasar sehingga pampers menjadi rujukan istilah popok sekali pakai.
Popok sekali pakai ex-'Pampers' produksi dari Procter & Gamble. (Gambar dari: http://www.ebay.de/)
Booming pemakaian pampers terjadi pada 1970-an. Pengenalan produknya dilakukan pada 1961 dengan promosi besar-besaran dan pemakain bahan yang lebih memperhatikan kesehatan kulit bayi, seperti bubur kertas. Bersaing dengan merek lainnya dari Kimberly-Clark, yaitu Huggies, menghasilkan penjualan tahunan sekitar empat miliar dolar AS. Pencapaian yang dapat disandingkan dengan simbol produk modern lainnya seperti microwave.

Victor Mills lahir di Milford, Nebraska dan pernah menjadi marinir semasa Perang Dunia I. Pendidikannya yang jebolan teknik kimia dari Universitas Washington pada 1926, membuatnya bisa bekerja di Procter & Gamble dan menjadi industrialis. Ia berumur panjang dan merasakan menyentuh usia 100 tahun. Ia meninggal dengan tenang di rumahnya di Tucson, Arizona. *** [EKA | FROM VARIOUS SOURCES | E. SAEFULLOH | PIKIRAN RAKYAT13022014]
Note: This blog can be accessed via your smart phone.
Enhanced by Zemanta

Tuesday, January 21, 2014

Kimiawan Penemu Propana Elpiji

WALTER OTHEMAN SNELLING (1880-1965)
Liquefied petroleum gas atau yang dilafalkan sebagai elpiji dan banyak kita gunakan saat ini, merupakan salah satu hasil penelitian kimiawan asal Amerika yang bernama Walter Otheman Snelling yang menemukan propana, sebagai salah satu komponen utama elpiji. Ia mengidentifikasi propana sebagai komponen volatil atau bersifat stabil dalam bensin pada tahun 1910.

Propana merupakan senyawa alkana tiga karbon (C3H8) yang berwujud gas dalam keadaan normal, tetapi dapat dikompresi menjadi cairan yang mudah dipindahkan dalam kontainer yang tidak mahal. Senyawa ini diturunkan dari produk petroleum lain pada pemrosesan minyak bumi atau gas alam.
Senyawa alkana 3 karbon (C3H8) dalam keadaan normal memiliki wujud gas, namun tetapi dapat dikompresi menjadi cairan.
Snelling adalah ahli kimia berkebangsaan Amerika Serikat yang lahir pada 13 Desember 1880 di Washington DC dan meninggal dunia pada 10 September 1965 di Allentown, Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia mengenyam pendidikan di tiga universitas ternama di Amerika, yakni Harvard University, Yale University, dan George Washington University. Di tahun 1919, ia menikahi Helen Maijorie di Union City, Pennsylvania. Helen berumur 21 tahun lebih muda dari Snelling, yakni kelahiran 1901 dan meninggal dunia tahun 1976 di usianya yang ke-75 tahun.

Mereka dikaruniai 7 orang anak dan menjalani seluruh kehidupan pernikahannya di Allentown, Pennsylvania. Keluarga Snelling membeli sebuah rumah di pinggiran kota West Park antara tahun 1940 atau 1941, dan Walter tinggal di sana hingga kematiannya.

Awalnya, saat di Washington DC, Snelling yang telah menerima gelar dari Universitas Harvard, Yale, serta George Washington, melakukan penelitian yang menjadi pekerjaannya yakni survei geologi, untuk mengembangkan detonator bawah air untuk bahan peledak.

Pada tahun 1907, ia memperoleh izin menggunakan ruang laboratorium di Universitas George Washington. Dengan menggunakan pipa berisi air di luar jendela laboratorium itu, Snelling menguji detonator buatannya untuk peledakan bawah air yang diperlukan dalam pembangunan Terusan Panama. Perangkat yang dihasilkannya itu membuat pemerintah mampu berhemat setengah juta dolar AS per tahun saat membuat "ukiran besar" dari Atlantik ke Pasifik tersebut.

Tahun-tahun berikutnya, Snelling beserta stafnya pindah ke Pitssburg yang kantornya kelak menjadi biro pertambangan Amerika. Di sana, Snelling berhasil memisahkan "bensin liar" dalam bentuk cair dan komponen gas. Volatilitas dari hidrokarbon ringan ini menyebabkan mereka dikenal sebagai sebagai bahan bakar "liar" karena tingginya tekanan uap dari bensin yang dimurnikan. Pada 31 Maret 1910, New York Times melaporkan penelitian Snelling mengenai gas cair dengan menulis: "...hanya dengan botol baja bisa menyimpan gas untuk menerangi rumah biasa selama 3 minggu".

Pada 6 Juni 1911, Snelling memberikan laporan lengkap tentang pekerjaannya kepada Biro Pertambangan Amerika. Pada 12 Juni 1911, dalam bentuk tertulis, ia menyerahkan semua informasi yang diperlukan terkait suhu tekanan elpiji dan metode penyulingan untuk dipatenkan.

Sayangnya, Snelling yang saat itu begitu dekat dengan 200 buah paten terkait dengan penemuannya dan yang merupakan ilmuwan ahli peledakan terkemuka pada masa itu, tidak dilahirkan dengan bakat bisnis. Ia dan para stafnya tidak ditakdirkan menjadi pemimpin industri propana dunia.

Setelah mereka berjuang habis-habisan untuk menerobos pasar guna memasarkan elpiji penemuannya, mereka gagal. Di saat kritis, hasil penelitiannya dan hak patennya tersebut kemudian dijual kepada Frank Phillips, pendiri perusahaan minyak raksasa Philips Petroleum, yang kemudian dikembangkan menjadi elpiji seperti yang kita pakai untuk memasak pada masa sekarang ini.

Produksi komersial pertama elpiji tidak dilakukan pada tahun 1910, dan harus menunggu hingga tahun 1920-an, hingga akhirnya perdagangan elpiji untuk regional baru dilakukan pada tahun 1950.

Salah satu anak Walter dan Helen Snelling yang bernama Richard Arkwright Snelling, adalah Gubernur Vermont. Anak laki-laki mereka lainnya, Charles Darwin Snelling, merupakan Ketua Dewan Direksi Metropolitan Washington Airports Authority dan memiliki jabatan di beberapa organisasi lainnya.

Charles merupakan anak Walter Snelling yang paling vokal "membela" hak ayahnya. Seperti dilansir dari www.lpgasmagazine.com, Charles mengatakan bahwa ia pernah mendengar ayahnya mengeluh kepada Frank Phillips dengan mengatakan, "Kamu menghasilkan miliaran dolar dari hasil penelitianku, tetapi kamu hanya memberiku 50,000 dolar AS, kamu harusnya membayarku lebih banyak." Namun kemudian Frank mengatakan, "Tidak, 'dok', aku tidak menghasilkan sepeser pun sampai masa paten ini habis." *** [EKA | FROM VARIOUS SOURCES  | FEBY SYARIFAH | PIKIRAN RAKYAT 16012014]
Note: This blog can be accessed via your smart phone.
Enhanced by Zemanta

Monday, November 25, 2013

Pembawa Tanaman Teh ke Indonesia

ANDREAS CLEYER (1634-1698)
Teh merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang banyak terdapat di Jawa Barat. Kontur tanah dan kondisi cuaca tanah Parahyangan membuat tanaman teh ini tumbuh baik dan mampu menghasilkan daun-daun teh dengan kualitas yang baik pula. Namun, siapakah yang membawa tanaman teh ke negeri Indonesia?

Kehadiran tanaman teh di tanah air tak lepas dari peran Andreas Cleyer, seorang pegawai (Vereenigde Oostindische Compagnie/VOC) asal Jerman yang juga memiliki profesi sebagai saudagar botani, dokter, dan pengajar. Cleyer lahir di Kassel 27 Juni 1634 dan meninggal di Batavia antara 20 Desember 1697 dan 26 Maret 1698. Pada perkembangan karier selanjutnya, ia menjadi pedagang mewakili VOC di Dejima, Jepang dan menjadi salah seorang Japanolog Eropa pertama.

Awal karier Cleyer adalah sebagai seorang perwira biasa yang kemudian diangkat menjadi pegawai VOC. Ia kemudian ditempatkan di apotek rumah sakit militer VOC karena latar belakang pendidikan sains dan kedokterannya, kemudian diangkat sebagai kepala sekolah bahasa Latin.

Karena kemampuannya, ia dikenal di kalangan elite VOC di Batavia pada pertengahan abad ke-17. Kepopulerannya berbuah manis hingga ia diangkat menjadi seorang magistral pada sistem peradilan VOC di Batavia pada tahun 1680. Selanjutnya, ia ditempatkan di Dejima, Jepang pada 20 Oktober 1682 - 8 November 1683 sebagai opperhoofd pada pos perniagaan VOC di sana.

Hasil pengamatan Cleyer pada tanaman 
Camellia (Tsubaki) & Distylium racemosum 
(isunoki) yang diterbitkan dalam Miscellanea 
Curiosa, Decuria II, Annus VII. (Gambar dari:  
http://en.wikipedia.org/)
Ia mengaku berkebangsaan Belanda di sana karena pada masa Edo waktu itu hanya orang Belanda (VOC) yang diizinkan masuk. Pada tanggal 17 Oktober 1685 hingga 5 November 1686 ia kembali ditugaskan ke Dejima. Akan tetapi, ia diusir oleh pemerintahan Tokugawa karena dianggap gagal mengendalikan penyelundupan. Oleh karena itulah, Cleyer kemudian dipindahkan ke Batavia.

Jasa Cleyer terutama adalah mengoleksi dan melakukan katalogisasi flora dan fauna Asia Tenggara, termasuk di nusantara dan mendeskripsikannya untuk kepentingan pengobatan. Cleyer diketahui sebagai orang yang memperkenalkan sejumlah tumbuhan dari Asia Timur ke Asia Tenggara dan Eropa. Salah satunya adalah teh dari Cina ke Jawa serta peoni dari Cina ke Eropa.

Tanaman teh ini pertama kali dibawa Cleyer ke Indonesia dari Jepang pada tahun 1684 sebagai tanaman hias. Sepuluh tahun kemudian, yakni tahun 1694, seorang pendeta bernama F Valentijn melaporkan ia melihat perdu teh muda berasal dari Cina tumbuh di Taman Istana Gubernur Jenderal Champuys di Jakarta.

Yang terjadi selanjutnya, pada tahun 1728 orang-orang Belanda mulai mencoba menanam teh untuk keperluannya sendiri dengan menggunakan benih yang didatangkan dari Cina. Tahun 1824 teh ditanam di Land's Plantentuin Buitenzorg atau Kebun Raya Bogor dan dikenalkan kepada masyarakat.

Pada tahun 1826, masyarakat mulai melihat tanaman teh di daerah Bogor. Pada tahun berikutnya, teh berhasil ditanam di Kebun Percobaan Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Kemudian percobaan yang lebih besar skalanya juga berhasil dilakukan di Wanayasa, Purwakarta dan di Gunung Raung, Banyuwangi, Jawa Timur.

Tahun 1830, saat Cultuurstelsel atau sistem tanam paksa diterapkan dan teh menjadi salah satu komoditas yang harus ditanam rakyat. Dalam peraturan yang ditetapkan pemerintah kolonial berbunyi bahwa setiap desa harus menyediakan seperlima tanahnya untuk ditanami komoditas ekspor dan panennya dijual ke pemerintah dengan harga yang ditetapkan pemerintah.

Pada tahun 1833 di Indonesia terdapat 1,7 juta batang pohon teh dengan hasil 16,833 pon. Pada tahun 1835, untuk pertama kalinya teh dari Jawa diekspor dan sebanyak 200 peti dilelang di Amsterdam pada saat itu. Perluasan perkebunan teh ke Sumatra baru dimulai tahun 1910 dengan dibangunnya perkebunan teh di daerah Simalungun, Sumatra Utara. Sebelum Perang Dunia II, luas perkebunan teh di Indonesia mencapai 230,000 hektare. *** [EKA | FROM VARIOUS SOURCES | FEBY SYARIFAH | PIKIRAN RAKYAT 21112013]
Note: This blog can be accessed via your smart phone.
Enhanced by Zemanta